Rabu, 06 Desember 2017

PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT



Tugas Makalah                                                                                                                                  Dosen Pembimbing
Kelompok Ke 6                                                                                                  Ali Amran, M.Si


PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT

ABDUL JAWAD RITONGA
1630200050
Muhammad Ikram
1430200083




FAKULTAS DAKWAH  ILMU DAN KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERIPADANGSIDIMPUAN
2017/2018









KATA PENGANTAR
            
Puji syukur kami panjatkan kehadiran kehadiran ALLAH SWT. karena atas limpahan rahmat-Nya  Kami dapat menyelesaikan makalah ini.
            Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W yang diutus sebagai rahmat untuk sekalian alam dan membimbing umat ke jalan yang lurus.
  Ribuan terima kasih kami ucapkan kepada :
1.      Bapak dosen Ali Amran, M.Si yang telah memberikan pengarahan atas terselesaikannya makalah ini.
2.      Teman-teman semester III.
Makalah ini disusun sebagai pemenuhan tugas mata kuliah ISD(Ilmu Sosial Dasar). Kami menyadari tentunya makalah ini jauh dari kesempurnaan. Kendati demikian, kami berharap Makalah ini bermanfaat bagi para pembaca. Akhir kata, permohonan maaf kami haturkan atas segala kekurangan dalam makalah ini.




                                                                                                PadangSidimpuan, 05-10-2017













DAFTAR  ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................
DAFTAR ISI  ............................................................................................................

BAB 1  PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang  .....................................................................................
B.       Rumusan Masalah ..................................................................................
C.       Tujuan Masalah ...............................................................................................

BAB II  PEMBAHASAN

A.      Pelapisan Sosial ....................................................................................
B.       Kesamaan Drajat..................................................................................
C.       Elite dan Massa ....................................................................................
D.       Pembagian Pedapatan ..........................................................................

BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan ...........................................................................................  

DAFTAR PUSTAKA









BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dalam masyarakat kita terdapat berbagai kedudukan, seperti dokter, insinyur, guru, pengusaha, petani, pedagang, wartawan, polisi, mahasiswa, ulama, nelayan, dan sebagainya. Kedudukan- kedudukan ini dinilai oleh masyarakat umum berkenaan dengan suatu skala tinggi rendah, sehingga ada kedudukan yang dianggap tinggi, dan ada kedudukan yang dianggap rendah.
Masyarakat sebagai keseluruhan terdapat bermacam-macam dasar untuk menentukan tinggi rendah kedudukan seseorang, dasar penilaian yang berlaku dalam satu kesatuan sosial tertentu saja. Dengan demikian, bahwa di berbagai kesatuan sosial dijumpai perbedaan tinggi rendah kedudukan yang mengakibatkan adanya pelapisan-pelapisan sosial dalam kesatuan sosial yang bersangkutan.
Maka dari itu disini kami akan menjelaskan tentang pelapisan-pelapisan sosial dan apa saja yang dapat mempengaruhi terjadinya pelapisan sosial.
  1. Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud Pelapisan Sosial.
2.      Apakah yang dimasud Kesamaan Drajat.
3.      Apakah yang dimasud Elite dan Massa
4.      Apakah yang dimasud Pembagian Pedapatan.









BAB II
PEMBAHASAN

1.  PELAPISAN SOSIAL : KENYATAAN
a. Pengertian pelapisan sosial (Stratifikasi sosial)
            Masyarakat terbentuk dari individu-individu. Yang terdiri dari berbagai latar belakang tentu akan membentuk suatu masyarakat heterogen yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial. Dengan adanya atau terjadinya kelompok soaial ini maka terbentuklah suatu pelapisan masyarakat atau terbentuklah masyarakat yang berstrata. Masyarakat merupakan suatu kesatuan yang didasarkan ikatan-ikatan yang sudah teratur dan boleh dikatakan stabil. Sehubungan dengan ini maka dengan sendirinya masyarakat merupakan  kesatuan yang dalam pembentukannya mempunyai gejala yang sama.
             Masyarakat tidak dapat dibayangkan tanpa individu, seperti juga individu tidak dibayangkan tandpa adanya masyarakat.
a.       Manusia dipengaruhi oleh masyarakat demi pembentukan pribadinya.
b.      Individu mempengaruhi masyarakat dan bahkan bisa menyebabkan (berdasarkan pengaruhnya) perubahan besar masyarakatnya.

Setelah itu bahwa manusia sebagai makhuk sosial yang selalu mengalami perubahan sosial, marilah kita pelajari apa yang dimaksud dengan Staratifikasi Sosial atau pelapisan masyarakat.
Stratifikasi atau Stratification berasal dari kata STRATA atau STRATUM yang berarti Lapisan-lapisan. Social Stratification sering diterjemahkan dengan pelapisan masyarakat. Sejumlah individu yang mempunyai kedudukan (status) yang sama menurut ukuran masyarakatnya, dikatakan berada dalam suatu lapisan atau stratum.[1]
Suatu kiasan untuk menggambarkan bahwa dalam tiap dalam kelompok terdapat perbedaan kedudukan seseorang dari yang berkedudukan yang tinggi sampai yang  berkedudukan rendah, solah-olah merupakan lapisan yang bersiap-siap dari atas kebawah. Untuk mudahnya maka Stratifikasi Sosial lebih dapat dijelaskan kalau kita perhatikan susunan kekastaan pada masyarakat Hindu di mana terdapat urutan-urutan yang paling tinggi sampai yang terendah.
Stratifikasi sosial dalam kekastaan Hindu adalah demikian kakunya, sehingga antara kasta yang satu dengan yang lain seolah-olah terpisah dalam “tembok-tembok” yang berbeda-beda. Pada masyarakat pedesaan di indonesia dijumpai orang-orangyang di anggap tergolong stratifikasi atas yaitu guru-guru pamong desa,ulama yang berkedudukan sebagai key status pada lingkungan masing-masing.tetapi dalam komunikasi mereka itu justru yang merupakan orang-orang yang menjadi teladan dan tempat nertanya bagi masyarakat.[2]
Piritim A.sorokin,pernah mengatakan bahwa sistem berlapis-lapis itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur (dalam Soerjono 1977).selanjutnya sorokin menyatakan bahwa pelapisan sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkhis).perwujutannya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas yang lebis rendah.pada bagian lain soroki mengatakan,bahwa dasar dan inti lapisan-lapisan dalam masyarakat adalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajiban,kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat.[3]

b. Status Sosial
            Status seorang individu dalam masyarakat dapat dilihat dari dua aspek yakni :
1). Aspek statis :
            Yaitu kedudukan dan derajat seorang di dalam suatu kelompok yang dapat dibedakan dengan derajat atau kedudukan individu lainnya. Seperti : petani dapat dibedakan dengan nelayan, pagawai luar negri, pedagang dan lain-lain.
2). Aspek dinamis :
            Yaitu berhubungan erat dengan peranan sosial tertentu yang berhubungan dengan pengertian dengan jabatan, fungsi, dan tingkah laku yang formal serta jasa yang diharapkan dari fungsi dan jabatan tersebut.
Contoh : Direktur perusahaan, pimpinan sekolah, komandan batalion, camat dan Sebagainya.
            Peranan sosial adalah suatu cara atau perbuatan atau tindakan seorang individu dalam usahanya memenuhi tanggung jawab hak-hak status sosialnya.[4]



C. Pelapisan sosial ciri tetap kelompok sosial
Pembagian dan pemberian kedudukan yang berhubungan dengan jenis kelamin nampaknya menjadi dasar dari seluruh sistem sosial masyarakat. Tetapi hal ini perlu di ingat bahwa ketentuan ketentuan tentang pembagian kedudukan antara laki-laki dan perempuan yang kemudian menjadi dasar dari pada pembagian pekerjaan, semata mata ditentukan oleh sistem kebudayaan itu sendiri.kita lihat saja misalnya kedudukan laki-laki di Jawa berbeda dengan kedudukan laki-laki di Minangkabau. Di Jawa kekuasaan keluarga di tangan ayah sedangkan di Minangkabau tidak demikian. Dalam hubunganya dengan pembagian pekerjaan pun setiap suku bangsa memiliki cara sendiri sendiri.Di Irian misalnya atau Bali, wanita harus harus lebih bekerja keras dari pada laki-laki.
Di dalam organisasi mayarakat primitif pun dimana belum mengenal tulisan, pelapisan masyarakat itu sudah ada.Hal ini terwujud bentuk sebagai berikut :
1)      Adanya kelompok berdasarkan jenis kelamin dan umur dengan pembedaan-pembedaan hak dan kewajiban
2)      Adanya kelompok-kelompok pemimpin suku yang berpengaruh dan memiliki hak-hak yang istimewah
3)      Adanya pemimpin yang paling berpengaruh
4)      Adanya orang-orang yang dikecilkan di luar kasta dan orang di luar perlindungan hukum (cutlaw men)
5)      Adanya pembagian kerja didalam suku itu sendiri
ekonomi dari individu-individu yang terisolir produktif kolektif. Apa yang sesungguhnya adalah kelompok ekonomi yang tersusun atas dasar ketergantungan yang timbal







Dalam kehidupan pada umumnya Stratifikasi dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu :
1).  Stratifikasi Terbuka
Anggota kelompok yang satu ada kemungkinan besar untuk berpimdah kelompok yang lain, artinya dapat menurun ke kelompok yang lebih rendah atau sebaliknya. Contoh : kedudukan Presiden dan Menteri. Anak-anak Presiden dan Menteri belum tentu dapat mencapai kedudukan sebagai Presiden atau Menteri. Tetapi sebagainya warga masyarakat pada umumnya ada kemungkinan dapat memiliki kedudukan seperti tersebut.
2).  Stratifikasi Tertutup
            Kemungkinan pindah seorang anggota kelompok dari golongan yang kesatu ke golongan yang lain  kecil sekali, sebab biasanya sistem ini didasarkan atas keturunan. Jadi misalnya anak-anak keturunan Brahmana, dengan sendirinya akan tetapi menjadi golongan Brahmana, dan sebaliknya golongan Sudra.[5]

2. KESAMAAN DERAJAT
            Dalam kenyataannya menghadapi struktur masyarakat yang menyangkut perubahan kedudukan golongan-golongan sosisal mempunyai peranan dan kekuasaan dalam menentukan arah gerak perubahan, seperti yang dirasakan sekarang ini. Di lain pihak kontradiksi dari pinsip semacam ini dengam terang-terang atau sembunyi menjalankan siaset keji, yang secara keseluruhan didaarkan atas asas perbudakan, kepentingan perorangan dan keuntungan pribadi.
            Di indonesia, pandangan tentaang kesamaan derajat atau persamaan sosial telah di tuangkan di dalam UUD 1945, tentang hak-hak asasi manusia.[6]
Sifat perhubungan antara manusia dan lingkungan masyarakat pada umumnya adalah timbal balik, artinya seorang itu sebagai anggota masyarakat, mempunyai hak dan kewajiban, baik terhadap masyarakat maupun terhadap pemerintah dan negara. Beberapa hak dan kewajiban penting ditetapkan dalam undang-undang (Konstitusi) sebagai hak dan kewajiban asasi. Untuk dapat melaksanakan hak dan kewajiban ini dengan bebas dari rasa takut perlunya adanya jaminan, dan yang mampu memberi jaminan ini adalah pemerintah yang kuat dan berwibawa. Di dalam susunan  negara modern hak-hak dan kebebasan-kebebasan asasi manusia itu dilindungi oleh Undang-undang dan menjadi hukum positif. Undang-undang tersebut berlaku sama pada setiap orang tanpa kecualinya dalam arti semua orang mempunyai kesamaan derajat dan ini di jamin oleh undang-undang . kesamaan derajat dan isi jaminan oleh undang-undang. Kesamaan derajat ini terwujud dalam jaminan hak yang diberikan dalam berbagai sektor kehidupan. Hak inilah yang banyak dikenal dengan Hak Asasi Manusia.
1)      Persamaan Hak
Adanya kekuasaan negara seolah-olah hak individu lambat-laun dirasakan sebagai suatu yang mengganggu, karena dimana kekuasaan negara itu berkembang, terpaksalah ia memasuki lingkungan hak asasi manusia pribadi dan berkuranglah pula luas batas hak-hak yang dimiliki individu itu. Dan di sinilah timbul persengketaan pokok antara dua kekuasaan itu secara prinsip, yaitu kekuasaan manusia yang berwujud dalam hak hak dasar beserta kebebasan asasi yang selama itu  dimilikinya dengan leluasa, dan kekuasaan yang melekat pada organisasi baru dalam bentuk masyarakat yang merupakan negara tadi.
Mengenai persamaan hak ini selanjutnya di cantumkan dalam Pernyataan Sedunia Tentang Hak-hak (Asasi) Manusia atau Universitas Declaration of Human Right (1948) dalam pasal pasalnya, seperti dalam :
Ø  Pasal 1 : ”Sekalaian orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabatdan hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan budi dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam persaudaraan,”
Ø  Pasal 2 ayat 1 : “ Setiap orang berhak ats semua hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum dalam pernyataan ini dengan tada kecuali apa pun, seperti misalnya bangsa, warna, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat lain.[7]




2)  Persamaan derajat di Indonesia
Persamaan derajat adalah persamaan nilai, harga taraf yang membedakan makhluk yang satu dengan makhluk yang lainnya. Harkat manusia adalah nilai manusia sebagai makhluk tuhan yang dibekali cipta, rasa, karsa dan hak-hak serta kewajiban asasi manusia. Martabat adalah tingkatan harkat kemanusiaan dan kedudukan yang terhormat.sedangkan kesamaan derajat adalah tingkatan, martabat dan kedudukan manusia sebagai makhluk tuhan yang memiliki kemampuan kodrat,hak dan kewajiban.
3.  ELITE DAN MASSA
            Istilah “elite” pertama kali digunakan pada abad ketujuh, defenisi elite bertitik tolak dari adanya ketidaksamaan bakar bakat individual dalam setiap lapisan kehidupan sosial. Lapisan sosial yang lebih tinggi dari kelompok-kelompok tertentu, yang tidak selalu didefinisikan secara tajam. Dalam zaman modren, kelompok elite tidak begitu saja ditempatkan di atas seluruh masyarakat. Tetapi berhubungan erat dengan masyarakat melalui suatu sub-elite, yaitu suatu kelompok yang lebih besar.
            Cara-cara yang sering di lakukan oleh kaum elite ialah mengacau daerah lain agar rakyat lari ke daerah kekuasaanya.[8]
1).  Elite dalam berbagai dimensi
            Dalam suatu kehidupan sosial yang teratur, baik dalam konteksi luas maupun yang lebih sempit, dalam kelompok hetrogen maupun homogen selalu ada kecendrungan untuk menyisihkan satu golongan tersendiri bagi satu golongan yang penting,
2).  Peranan Elite terhadap Massa
            Elite sebagai minoritasyang memiliki kualifikasitertentu yang eksistensinya sebagi kelompok penentu dan berperan dalam masyarakat diakui secara legal oleh masyarakat pendukungnya. Dalam hal ini kita melihat elite sebagai kelompok yang berkuasa dan kelompok penentu.[9]

1). Pengertian Elite
Dalam pengertian yang umum elite itu menunjuk sekelompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan tinggi. Dalam arti lebih yang khusus dapat diartikan sekelompok orang terkemuka di bidang-bidang tertentu dan khususnya golongan kecil yang memegang kekuasaan.
Dalam cara pemakaiannya yang lebih umum elite dimaksudkan: “posisi di dalam masyarakat di puncak struktur-struktur sosial yang terpenting, yaitu posisi tinggi di dalam ekonomi, pemerintahan aparat kemiliteran, politik, agama, pengajaran, dan pekerjaan-pekerjaan dinas”.
Tipe masyarakat dan sifat kebudayaan sangat menentukan watak elite. Dalam masyarakat industri watak elitenya berbeda sama sekali dengan elite di dalam masyarakat primitif.Di dalam suatu lapisan masyarakat tentu ada sekelompok kecil yang mempunyai posisi kunci ataumereka yang memiliki pengaruh yang besar dalam mengambil berbagai kebijaksanaan. mereka itu mungkin para pejabat tugas, ulama, guru, petani kaya, pedagang kaya, pensiunan dan lainnya lagi.Para pemuka pendapat (opinion leader) inilah pada umumnya memegang strategi kunci dan memiliki status tersendiri yang akhirnya merupakan elite masyarakatnya. Fungsi Elite dalam Memegang Strategi
Pembedaan elite dalam memegang strategi secara garis besar adalah sebagai berikut :
a.       Elite politik (elite yang berkuasa dalam mencapai tujuan).
b.      Elite ekonomi, militer, diplomatik dan cendekiawan (mereka yang berkuasa atau mempunyai pengaruh dalam bidang itu).
c.       Elite agama, filsuf, pendidik, dan pemuka masyarakat.
d.      Elite yang dapat memberikan kebutuhan psikologis, seperti : artis, penulis, tokoh film, olahragawan dan tokoh hiburan dan sebagainya.

Elite dari segala elite dapatlah menjalankan fungsinya fungsinya dengan mengajak para elite pemegang strategi di tiap bidangnya untuk bekerja sebaik-baiknya. Kecuali itu dimanapun juga para elite pemegang strategi tersebut memiliki prinsip yang sama dalam menjalankan fungsi pokok maupun fungsinya yang lain, seperti memberikan contoh tingkah laku yang baik kepada masyarakatnya, mengkoordinir serta menciptakan yang harmonis dalam berbagai kegiatan, fungsi pertahanan dan keamanan, meredakan konflik sosial maupun fisik dan dapat melindungi masyarakatnya terhadap bahaya dari luar.


2).  Pengertian Massa
Istilah massa dipergunakan untuk menunjukkan suatu pengelompokkan kolektif lain yang elementer dan spontan, yang dalam beberapa hal menyerupai crowd, tapi sayang secara fundamental berbeda dengannya dalam hal-hal yang lain. Massa diwakili oleh orang-orang yang berperan serta dalam perilaku massal yang sepertinya mereka yang terbangkitkan minatnya oleh beberapa peristiwa nasional, mereka yang menyebar di berbagai tempat, mereka yang tertarik pada suatu peristiwa pembunuhan sebagai berita dalam pers, atau mereka yang berperan serta dalam suatu migrasi dalam arti luas.
Ciri – Ciri Massa:
Beberapa hal penting yang merupakan sebagian ciri-ciri yang membedakan di dalam massa :
a.       Keanggotaannya berasal dari semua lapisan masyarakat atau strata sosial, meliputi orang-orang dari berbagai posisi kelas yang berbeda, dari jabatan kecakapan, tingkat kemakamuran atau kebudayaan yang berbeda-beda. Orang bisa mengenali mereka sebagai massa misalnya orang-orang yang sedang mengikuti suatu proses peradilan tentang pembunuhan misalnya melalui pers.
b.      Massa merupakan kelompok yang anonim, atau lebih tepat, tersusun dari  individu-individu yang anonim.
c.       Sedikit sekali interaksi atau bertukar pengalaman antara anggota­anggotanya











4.  PEMBAGIAN PENDAPATAN
1).  Komponen Pendapatan
            Dalam kehidupan ekonomi, hanya ada dua kelompok, yaitu rumah tangga produsen dan rumah tangga konsumen. Dalam rumah tangga produsen dilakukan proses produksi. Pemilik faktor produksi yang telah menyerahkan atau mengikutsertakan faktor produksinya ke dalam proses produksi akan memperoleh balas jasa. Pemilik alam (tanah) akan memperoleh sewa. Pemilik tenaga akan memperoleh upah.
2). Perhitungan Pendapatan
            Apabila diteliti lebih lanjut, masih terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi besarnya upah atau sewa tanah, walaupun hasil yang dapat diperolehnya tetap. Namun demikian, tingkat upah atau sewa tanah  itu tidak bergerak bebas naik terus-menerus.
3). Distribusi Pendapatan
            Setelah dilakukan perhitungan pendapatan nasional, maka dapat diketahuikegiatan produksi dan sruktur perekonomian suatu negara. Lebih lanjut akan mempermudah perancang perekonomian negara, karna telah diketahui bahan-bahan/keterangan mengenai situasi ekonomi baik secara makro maupun sektoral. Sektor mana yang memberi sumbangan paling banyak dan juga golongan mana yang memperoleh bagian pendapan nasional yang terbanyak.[10]







BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

                   Pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosial. Derajat seseorang adalah merupakan hasil atau pencerminan dari kedudukannya dan kedudukan itu membawa konsekuensi kewajiban untuk berperan. Mengenai persamaan hak ini telah dicantumkan dalam pernyataan sedunia hak-hak asasi manusia tahun 1948 dalam pasal- pasalnya.
                   Tuntutan atas kesamaan hak bagi setiap manusia berdasarkan pada prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM). Dalam demokrasi, diskriminasi seharusnya telah ditiadakan dengan adanya kesataraan dalam bidang hukum, kesederajatan dalam perlakuan adalah salah satu wujud ideal dalam kehidupan negara yang demokratis.













DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dkk. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Drs. H. Hartomo, Dkk, Ilmu Sosial Dasar( Jakarta:Bumi Aksara 1990)
Drs. Wahyu Ms,wawasan, ilmu sosial dasar. Banjarmasin, 1986



[1] .   Drs. H. Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar: Jakarta 2009: hlm 196-197.
[2] .  Drs. H. Hartomo, Dkk, Ilmu Sosial Dasar( Jakarta:Bumi Aksara 1990)Hlm.194-195.
[3] .  Drs. Wahyu Ms,wawasan, ilmu sosial dasar. Banjarmasin, 1986.Halm. 98-99
[4] .  Drs. H. Hartomo, Drs. Arnicun, Ilmu Sosial Dasar. Jakarta, 1990. Halm. 195-196
[5] .  Ibid.Hlm. 202
[6] .  Drs. Wahyu Ms,wawasan, ilmu sosial dasar. Banjarmasin, 1986.Halm 104-108
[7] .  Ibid.Hlm 206-207
[8] .  Drs. Wahyu MS, Wawasan Ilmu sosial dasar, Usana, surabaya, 1987, hal. 109-122
[9] .  Ibid hlm. 219
[10] .  Ibid. Hlm.218-222