FASE
TURUNNYA AL QUR’AN
Masa
turunnya Al-Qur‟an sealam 22 tahun lebih tersebut terbagi dalam dua periode, sebagai berikut:
a. Periode
pertama adalah Makkah. Yaitu, Wahyu Ilahi yang diturunkansebelum hijrah
tersebut di sebut surat/ ayat makkiyah merupakan 19/30dari Al-Qur‟an, yang menurut Ahli Tahkiq selama 12 tahun 5 bulan
danlebih 13 hari. Dan terdiri dari 90 surah yang mencakup 4.773ayat. surat dan
ayatnya pendek-pendek dan gaya bahasanya singkat-padat( Ijaz ),
karena sasaran pertama dan utama pada periode ini adalah orang-orang arab asli
( Suku Quraisy )yang sudah tentu paham benar akan bahasaArab. Mengenai isi
surat/ayat Makkiyah pada umumnya berupa ajakanuntuk
bertauhid yang murni atau ketuhanan yang Maha Esa secara murnidan juga
tentang pembinaan mental dan akhlaq.b.
b. Periode
kedua adalah periode Madinah. Yaitu, wahyu Ilahi yang turunsesudah hijrah
disebut surat/ayat Madaniyyah dan merupakan 11/30 dari Al-Qur‟an. Selam 9 tahun
9 bulan lebih 9 hari, yang terdiri dari 24 surah yang meliputi 1463 ayat. surat dan ayatnya panjang-panjang dan
gayabahasanya panjang lebar dan lebih jelas (Ithnab), karena
sasarannyabukan hanya orang-orang arab asli, melainkanjuga non arab dari
berbaga bangsa yang telah mulai masuk islam dan sudah tentu
mereka belummenguasai bahasa arab. Mengenai isi surat/ayat Madaniyyah
padaumumnya berupa norma-norma hukum untuk pembentukan danpembinaan suatu
masyarakat / umat islam dan Negara yang adil danmakmur yang diridhai Allah SWT.
BENTUK-BENTUK AYAT MUTASYABIH DALAM AL-QUR’AN
Mutasyabih yang terdapat dalam Al-Qur’an ada dua macam.
Pertama:
Hakiki, yaitu apa yang tidak dapat diketahui dengan nalar manusia, seperti hakikat sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Walau kita mengetahui makna dari sifat-sifat tersebut, namun kita tidak pernah tahu hakikat dan bentuknya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hakiki, yaitu apa yang tidak dapat diketahui dengan nalar manusia, seperti hakikat sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Walau kita mengetahui makna dari sifat-sifat tersebut, namun kita tidak pernah tahu hakikat dan bentuknya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا
“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang
mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya” [Thahaa/20 : 110]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ
الْخَبِيرُ
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata sedang Dia dapat melihat
segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”
[Al-An’am/6 : 103]
Oleh karena itu ketika Imam Malik rahimahullah ditanya tentang firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy” [Thahaa/20
: 5]
Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam ? Beliau menjawab :
“Bersemayam menurut bahasa telah diketahui artinya, hakikatnya tidak diketahui,
iman kepadanya hukumnya wajib dan mempertanyakannya adalah bid’ah”
Bentuk Mustasyabih yang ini tidak mungkin untuk dipertanyakan sebab tidak
mungkin untuk bisa diketahui hakikatnya.
Kedua.
Relatif, yaitu ayat-ayat yang tersamar maknanya untuk sebagian orang tapi tidak bagi sebagian yang lain. Artinya dapat dipahami oleh orang-orang yang mendalam ilmunya saja.
Relatif, yaitu ayat-ayat yang tersamar maknanya untuk sebagian orang tapi tidak bagi sebagian yang lain. Artinya dapat dipahami oleh orang-orang yang mendalam ilmunya saja.
Bentuk Mutasyabih yang ini boleh dipertanyakan tentang penjelasannya karena
diketahui hakikatnya, karena tidak ada satu katapun dalam Al-Qur’an yang
artinya tidak bisa diketahui oleh manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
“(Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta
pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” [Ali-Imran/3 : 138]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً
وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
“ …Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri” [An-Nahl/16 : 89]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ﴿١٨﴾ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
“Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu.
Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya” [Al-Qiyaamah/75
: 18-19]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا
إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kapadamu bukti kebenaran dari
Tuhanmu, (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamua cahaya
yang terang benderang (Al-Qur’an)” [An-Nisaa/4: 174]
Contoh-contoh untuk bentuk ini sangat banyak sekali, diantaranya.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا
وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu
sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan
(pula), dijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada
sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat” [Asy-Syura/42 : 11]
Ahli Ta’thil salah dalam memahaminya, mereka pahami, bahwa yang dimaksud
adalah tidak ada sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka beranggapan,
bahwa adanya sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharuskan keserupaan
dengan makhluk, mereka menolak banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang
sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka juga menolak, bahwa kesamaan makna
tidak mengharuskan adanya keserupaan.
Contoh lain :
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا
وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka
balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan
mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya” [An-Nisaa/4 : 93]
Golongan Wa’idiyah salah dalam memahaminya, mereka pahami bahwa seseorang
yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka dia kekal di dalam neraka,
dan hal ini dijadikan patokan bagi semua pelaku dosa besar, mereka menolak
ayat-ayat yang menjelaskan bahwa dosa-dosa di bawah syririk berada di bawah
kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Contoh yang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ
ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja
yang ada di langit dan di bumi ? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam
sebuah kitab (Lauh Mahfuzh)? Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi
Allah” [Al-Hajj/22 : 70]
Golongan Jabariyah salah dalam memahaminya, mereka memahami, bahwa seorang
hamba melakukan amal perbuatan karena terpaksa, dia tidak memiliki keinginan
dan kemampuan apapun, mereka menolak banyak ayat yang menjelaskan, bahwa
seorang hamba juga memiliki keingainan dan kemampuan dan bahwa amal perbuatan
seorang hamba terbagi menjadi dua : ikhtiyaari (berdasarkan keinginan) dan
ghoiru ikhtiyaari (paksaan).
Sementara orang-orang yang mendalam ilmunya atau para ulama adalah
orang-orang yang memiliki pemahaman yang benar, mereka tahu bagaimana
mengkorelakasikan ayat-ayat Mutasyabihah ini sehingga maknanya sesuai dengan
ayat-ayat yang lain, akhirnya Al-Qur’an seluruhnya menjadi Muhkam tidak ada
yang tersamar sama sekali.
HIKMAH DARI PEMBAGIAN AL-QUR’AN MENJADI MUHKAM DAN MUTASYABIH
Kalau seandainya Al-Qur’an seluruhnya Muhkam, maka akan hilanglah hikmah dari ujian pembenaran dan amal perbuatan, karena maknanya sangat jelas dan tidak ada kesempatan untuk menyelewengkannya atau berpegang kepada ayat Mutasyabih untuk menebarkan fitnah dan merubahnya. Dan kalau seandainya Al-Qur’an seluruhnya adalah Mutasyabih, maka akan lenyaplah posisi Al-Qur’an sebagai penjelas dan petunjuk bagi manusia serta tidak mungkin untuk melakukan amal ibadah dengannya dan membangun aqidah yang benar diatasnya. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmahNya menjadikan sebagian ayat-ayat Al-Qur’an Muhkam agar bisa dijadikan rujukan ketika terdapat makna yang tersamar, dan sebagian lagi Mutasyabih sebagai ujian bagi para hamba agar terlihat jelas orang yang benar-benar beriman dari orang yang dihatinya terdapat penyakit, karena orang yang benar-benar beriman akan mengakui, bahwa Al-Qur’an seluruhnya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan apa saja yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah benar, tidak mungkin ada kebathilan atau kontradiksi sedikitpun padanya.
Kalau seandainya Al-Qur’an seluruhnya Muhkam, maka akan hilanglah hikmah dari ujian pembenaran dan amal perbuatan, karena maknanya sangat jelas dan tidak ada kesempatan untuk menyelewengkannya atau berpegang kepada ayat Mutasyabih untuk menebarkan fitnah dan merubahnya. Dan kalau seandainya Al-Qur’an seluruhnya adalah Mutasyabih, maka akan lenyaplah posisi Al-Qur’an sebagai penjelas dan petunjuk bagi manusia serta tidak mungkin untuk melakukan amal ibadah dengannya dan membangun aqidah yang benar diatasnya. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmahNya menjadikan sebagian ayat-ayat Al-Qur’an Muhkam agar bisa dijadikan rujukan ketika terdapat makna yang tersamar, dan sebagian lagi Mutasyabih sebagai ujian bagi para hamba agar terlihat jelas orang yang benar-benar beriman dari orang yang dihatinya terdapat penyakit, karena orang yang benar-benar beriman akan mengakui, bahwa Al-Qur’an seluruhnya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan apa saja yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah benar, tidak mungkin ada kebathilan atau kontradiksi sedikitpun padanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ
مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
“Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebathilan baik dari depan maupun
dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha
Terpuji” [Fushilat/41 : 42]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ
لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ? Kalau kiranya Al-Qur’an
itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di
dalamnya” [An-Nisa/4 : 82]
Sedangkan orang yang dalam hatinya terdapat penyakit, maka dia akan
menjadikan ayat-ayat Mutasyabih sebagai sarana untuk merubah-rubah ayat-ayat
Muhkam dan mengikuti hawa nafsu dalam menebarkan keragu-raguan pada
berita-berita Al-Qur’an serta angkuh dan sombong dari hukum-hukum Al-Qur’an.
Oleh karena itu anda selalu mendapati bahwa orang-orang yang salah jalan dalam
masalah aqidah dan ibadah selalu mempergunakan ayat-ayat Mutasyabih sebagai
dasar penyelewengan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar