Minggu, 24 September 2017

Sejarah hadis pada priode Rasul Sahabat dan tabi'in

A. SEJARAH PERKEMBANGAN HADIS
            Sejarah perkembangan hadis merupakan masa atau periode yang telah dilalui oleh hadis dari masa lahirnya dan tumbuh dalam pengenalan, penghayatan, dan pengamalan umat dari generasi ke generasi.[1]  Dengan memerhatikan masa yang telah dilalui hadis sejak masa timbulnya/lahirnya di zaman Nabi SAW. Meneliti dan membina hadis, serta segala hal yang mempengaruhi hadis tersebut. Para Ulama Muhadistin membagi sejarah hadis dalam beberapa periode. Adapun para ulama penulis seejarah hadis berbeda-beda dalam membagi periode sejarah hadis.
            Usaha mempelajari sejarah perkembangan hadis ini diharapkan dapat mengetahui sikap dan tindakan kita dengan sebenarnya, pembelajaran tentang perkembangan hadis ini selalu makin menarik untuk dikaji seiring perkembangan nalar manusia yang makin kritis. Apalagi yang terlibat dalam wacana ini bukan hanya kalangan umat islam,melainkan juga melibatkan kaum orientalis. Bahkan, menguatnya kajian hadis dalam dunia islam tidak terlepas dari upaya umat islam yg melakukan counter  balik terhadap sangkaan-sangkaan negatif kalangan orientalis terhadap keaslian hadis. Goldziher misalnya, ia meragukan sebagian besar keaslian hadis, bahkan yang diriwayatkan oleh Bukhari sekalipun. Salah satu alasannya adalah jarak  semenjak wafatnya Nabi Muhammad SAW dengan masa upaya pentadwinan hadis sangat jauh, menurutnya, sangat sulit menjaga tingkat orisinalitas hadis tersebut.[2]
A.  Periode : Perkembangan Hadis pada Masa Rasulullah SAW.
            Periode ini disebut ‘Ashr Al-Wahyi wa At-Taqwin’ (masa turunya wahyu dan pembentukan masyarakat Islam).[3] Pada periode inilah, hadis lahir berupa sabda (aqwal), af’al Nabi yang berfungsi menerangkan Al-Quran untuk menegakkan syariat Islam dan membentuk masyarakat Islam.
            Para sahabat menerima hadis secara langsung dan tidak langsung. Penerimaan secara langsung misalnya saat Nabi SAW. Memberi ceramah, pengajian, khotbah, atau penjelasan terhadap pertanyaan para sahabat. Adapun  penerimaan secara tidak langsung adalah mendengar dari sahabat yang lain atau dari utusan-utusan, baik dari utusan yang dikrim oleh Nabi ke daerah-daerah atau utusan daerah yang datang kepada Nabi.
            Pada masa Nabi SAW., kepandaian baca tulis di kalangan para sahabat sudah bermunculan, hanya saja terbatas sekali. Karena kecakapan baca tulis di kalangan sahabat masih kurang, Nabi menekankan untuk menghapal, memahami, memelihara, mematerikan, dan memantapkan hadis dalam amalan sehari-hari, serta mentabligkannya kepada orang lain.
            Tidak ditulisnya hadis secara resmi pada masa Nabi, bukan berarti tidak ada sahabat yang menulis hadis. Dalam sejarah penulisan hadis terdapat nama-nama sahabat yang menulis hadis, di antaranya :
1.      ‘Abdullah Ibn Amr Ibn ‘Ash, shahifah-nya disebut Ash-Shadiqah
2.      Ali Ibn Abi Thalib, penulis tentang hukum diyat, hukum keluarga dn lain-lain.
3.      Anas Ibn Malik.[4]
            Di samping itu, ketika Nabi SAW.  menyelenggarakan dakwah dan pembinaan umat, beliau sering mrngirimkan surat-surat seruan pemberitahuan, antara lain kepada para pejabat di daerah dan seruan seruan dakwah Islamiyah kepada para raja dan kabilah, baik di timur, barat,dan utara. Surat-surat tersebut merupakan koleksi hadis juga. Hal i i sekaligus membuktikan bahwa pada masa Nabi SAW. telah dilakukan penulisan hadis dikalangan sahabat.
            Umat Islam pada masa ini dapat secara langsung memproleh hadis dari Rasul SAW sebagai sumber.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى،إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْــــيٌ يُوْ حَــى ( ا لنخم/3-4)
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadannya ). (QS AL.Najm (53): 3-4).[5]
           
Rasul SAW menyampaikan hadisnya dengan berbagai cara, sehingga membuat para sahabat selalu ingin mengikuti penggajiannya. Ada beberapa cara Rasul SAW menyampaikan hadis kepada para sahabat, yaitu:
Pertama, Melalui para jama’ah pada pusat pembinannya yang disebut majelis al-Ilmi. Melalui majelis ini para sahabat memproleh banyak peluang untuk menerima hadis, sehingga mereka berusaha untuk selalu mengkonterasikan diri guna menggikuti kegiatan dan ajaran yang diberikan oleh Nabi SAW.
Para sahabat begitu antusiasi untuk tetap bisa menggikuti kegiatan di majilis ini, inmi ditunjukkannya dengan banyak upayakan oleh Umar bin Khattab. Ia sewaktu-waktu bergantian hadir dengan Ibnu Zaid (Dari bani Umayah) untuk menghadiri majilis ini, ketika ia berhalangan hadir. Ia berkata: “Kalau hari ini aku yang turun atau pergi, pada hari lainya ia yang pergi, demikian aku melakuknya.”[6] Terkadang kepala-kepala suku jauh dari madinah mengirim utusanya ke majlis ini. Untuk kemudian menggajarkannya kepada suku mereka sekembalinnya dari sini.
Kedua, dalam bnayak kesempatan Rasul SAW juga menyampaikan hadisnya melalui sahabat tertentu, yang kemudian disampaikannya kepada orang lain. Hal ini karena terkadang ketika ia mewurudkan hadis, para sahabat yang hadir hanya beberapa orang saja, baik karena disegaja oleh Rasul SAW sendri atau secara kebetulan para sahabat yang hadir hanya beberapa orang saja, bahkan hanya satu orang, seperti hadis-hadis yang di tulus oleh Abdullah ibn Amr ibn Al-Ash.
Untuk hal-hal yang sensitif, seperti yang berkaitan dengan soal keluarga dan kebutuhan biologis (terutama yang menyangkut hubungan suami istri) ia sampaikan melalui istri-istrinya.  Begitu juga sifat dari sahabat.
Ketiga, Cara lain yang dibuat oleh Rasul SAW adalah membuka sebuah tempat lapangan untuk menyampaikan ceramah, atau pidato. Ketika menunaikan ibadah Haji pada tahun 10 H (631 M), Nabi menyampaikan Khotbah yang sangat bersejarah di depan ratusan ribu kaum muslimin yang melakukan ibadah haji, yang isinya banyak terkait dengan bidang muamalah, siyasah, jinayah, dan hak asasi manusia.
B. Priode  : Perkembangan pada Masa Sahabat Kecil dan Tabiin.
            Priode ini disebut ‘Ashr- Intisyar al-Riwayah ila Al-Amshar (masa berkembang dan meluasnya periwayatan habis). [7] pada masa ini, daerah Islam sudah meluas, yakni ke negeri Syam, Irak, Mesir, Simarkand, bahkan pada tahun 93 H, meluas sampai ke daerah-daerah tersebut.
            Para sahabat kecil dan tabiin yang ingin mengetahui hadis-hadis Nabi SAW, di haruskan berangkat ke seluruh pelosok wilayah Daulah Islamiah untuk menanyakan hadis kepada sahabat-sahabat besar yang sudah tersebar diwilayah.
            Muncullah bendaharawan dan lembaga-lembaga hadis di berbagai daerah diseluruh Negeri. Diantara itu banyak hadis yang yang di ambil atau direrima berbagai daerah di seluruh negara dan menerima, menghapal, dan mengembangkan atau meriwayatkan tentang hadis tersebut adalah.
1.      Abu Hurairah, menurut Ibn Al-Jauji, beliau meriwayatkan 5.374 hadis, sedangkan menurut Al-Kirmany, beliau meriwayatkan 5.364.
2.      ‘Abdullah Ibn Umar Meriwayatkan 2.630 hadis.
3.      ‘Abdullah, istri Rasul SAW. meriwayatkan 2.270 hadis.
4.      ‘Abdullah Ibn ‘Abbas mriwayatkan 1.660 hadis.
5.      Jabir Ibn ‘Abdullah meriwayatkan 1.170 hadis.
6.      Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan 1.170 hadis.[8]
Adapun lembaga-lembaga hadis yang menjadi pusat bagi usaha penggalian, pendidikan, dan pengembangan hadis terdapat di:
1.      Madina, Dengan tokoh-tokohnya: Abu Bakar, Umar, Ali, Abu Hurairah, ‘Aisyah, Ibn Umar  Sa’id Al-Khudri, Zaid Ibn Tsabit (dari kalangan sahabat), ‘Urwah, Sa’id Az-Zuhri, ‘Abdullah Ibn Umar, Al-Qasim Ibn Abi Bakar, Nafi, Abu Bakar Ibn Abd Ar-Rahman Ibn Abd Ar-Rahman Ibn Hisyam, Dan Abu Zinad (dari kalangan tabiin).
2.      Mekah, dengan tokoj-tokohnya: Ali, ‘Abdullah Ibn Mas’ud, Sa’ad Ibn Abi Waqas, Sa’id Ibn Zaid, Khabbah Ibn Al-Arat, Salman Al-Aswad, Syuraih, Ibrahim, Sa’id Ibn Jubair, Amir Ibn Syurahil, Ash-Sya’bi.

3.      Bashrah, dengan tokoh-tokohnya: Anas Ibn Malik, “Utbah, Imran Ibn Husain, Abu Barzah, Ma’qil Ibn Yasar, Abu Bakrah, Abd Ar-Rahman Ibn Sumirah,’Abdullah Ibn Syikhkhir, Jariah Ibn Qudomah (sahabat), Abu Al-Aliyah, Rafi’ Ibn Mihram Al-Riyahi, Al-Hasan Al-Bishri, Muhammad Ibn Sirin, Abu Sya’tsa, Jabir Ibn Zaid, Qatabah, Mutharraf Ibn ‘Abdullah Ibn Syikhkhir, Abu Bardah Raja’ Ibn Abi Musa (tabiin).
4.      Syam, dengan tokoh-tokohnya: Mu’adz Ibn Jabbal, Ubaidah Ibn Tsamit, Abu Darda (sahabat), Abu Idris al-Khaulani, Qasibah Ibn Dzualib, Makhluk, Raja’Ibn Haiwah (tabiin).
5.      Mesir, dengan tokoh-tokohnya: ‘Abdullah Ibn Amr, Uqbah Ibn Amir, Kharijah Ibn Hudzaifah,’ Abdullah Ibn Harist, Abu Basyrah, Abu Saad al-Khair, Marstad al-Yaziri, Yazid Ibn Abi Habib (tabi’in)[9].

            Masa sahabat Khususnya masa Khulafa’ Al-Rasyidin (Abu bakar, Umar ibn Khattab, Usman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib) yang berlangsung sekitar tahun 11 H sampai dengan 40 H. Masa ini juga disebut dengan masa sahabat besar. Para sahabat masih terfokus pada pemeliharaan dan penyebaran al-Quran, maka periwayatan hadis belum begitu berkembang dan berusaha untuk membatasinya.[10]
           










[1]     Endang Soeari. Ilmu Hadis: Kajian Riwayah dan Diriwayah. Bandung: Mimbar Pustaka.2005. hlm. 29.
[2]     Dr.H. Munzier Suparta M.A. Ilmu hadis: Jakarta 2001. Hlm. 69.
[3]  Barmawi Umarie. Status Hadits sebagai dasar Tasjri. Solo: AB. Siti Sjamsijah. 1965. Hlm 13. Lihat juga                                                                            Soetari.  Op,cit hlm.33.

[4]    Baarmawi Umaie. Status Hadis sebagai Dasar Tasjri. Solo: AB. Siti Sjmasijah. 1965, hlm 13. Lihat Juga     Soetari. Op,cit.33.
[5]         Dr.H. Munzier Suparta M.A. Ilmu hadis: Jakarta 2001. Hlm.71
[6] Ibnu Hajar Al-Al-Asqalani, Fath Al-bari, Jilid I, (Beirut: Dar Al-Fikr wa Maktabah Al-Salafih, t,t) hlm. 150.
[7]   Ibid.hlm.47-54 Lihat juga Ash-Shuddieqy. Op,cit, hlm. 69-78.
[8]   Soetari, op.cit, hlm.48
[9]   Ibid. hlm. 48-49. Lihat Ash-Shidieqy. Op.cit. hlm 74-76
[10]  Dr.H. Munzier Suparta M.A. Ilmu hadis: Jakarta 2001. Hlm 79

Tidak ada komentar:

Posting Komentar