A. SEJARAH
PERKEMBANGAN HADIS
Sejarah
perkembangan hadis merupakan masa atau periode yang telah dilalui oleh hadis
dari masa lahirnya dan tumbuh dalam pengenalan, penghayatan, dan pengamalan
umat dari generasi ke generasi.[1] Dengan memerhatikan masa yang telah dilalui
hadis sejak masa timbulnya/lahirnya di zaman Nabi SAW. Meneliti dan membina
hadis, serta segala hal yang mempengaruhi hadis tersebut. Para Ulama Muhadistin
membagi sejarah hadis dalam beberapa periode. Adapun para ulama penulis
seejarah hadis berbeda-beda dalam membagi periode sejarah hadis.
Usaha
mempelajari sejarah perkembangan hadis ini diharapkan dapat mengetahui sikap
dan tindakan kita dengan sebenarnya, pembelajaran tentang perkembangan hadis
ini selalu makin menarik untuk dikaji seiring perkembangan nalar manusia yang
makin kritis. Apalagi yang terlibat dalam wacana ini bukan hanya kalangan umat
islam,melainkan juga melibatkan kaum orientalis. Bahkan, menguatnya kajian
hadis dalam dunia islam tidak terlepas dari upaya umat islam yg melakukan counter balik terhadap sangkaan-sangkaan negatif
kalangan orientalis terhadap keaslian hadis. Goldziher misalnya, ia meragukan
sebagian besar keaslian hadis, bahkan yang diriwayatkan oleh Bukhari sekalipun.
Salah satu alasannya adalah jarak
semenjak wafatnya Nabi Muhammad SAW dengan masa upaya pentadwinan hadis
sangat jauh, menurutnya, sangat sulit menjaga tingkat orisinalitas hadis
tersebut.[2]
A. Periode : Perkembangan Hadis pada Masa Rasulullah
SAW.
Periode
ini disebut ‘Ashr Al-Wahyi wa At-Taqwin’ (masa turunya wahyu dan
pembentukan masyarakat Islam).[3]
Pada periode inilah, hadis lahir berupa sabda (aqwal), af’al Nabi yang
berfungsi menerangkan Al-Quran untuk menegakkan syariat Islam dan membentuk
masyarakat Islam.
Para
sahabat menerima hadis secara langsung dan tidak langsung. Penerimaan secara
langsung misalnya saat Nabi SAW. Memberi ceramah, pengajian, khotbah, atau
penjelasan terhadap pertanyaan para sahabat. Adapun penerimaan secara tidak langsung adalah
mendengar dari sahabat yang lain atau dari utusan-utusan, baik dari utusan yang
dikrim oleh Nabi ke daerah-daerah atau utusan daerah yang datang kepada Nabi.
Pada
masa Nabi SAW., kepandaian baca tulis di kalangan para sahabat sudah
bermunculan, hanya saja terbatas sekali. Karena kecakapan baca tulis di
kalangan sahabat masih kurang, Nabi menekankan untuk menghapal, memahami,
memelihara, mematerikan, dan memantapkan hadis dalam amalan sehari-hari, serta
mentabligkannya kepada orang lain.
Tidak
ditulisnya hadis secara resmi pada masa Nabi, bukan berarti tidak ada sahabat
yang menulis hadis. Dalam sejarah penulisan hadis terdapat nama-nama sahabat
yang menulis hadis, di antaranya :
1.
‘Abdullah
Ibn Amr Ibn ‘Ash, shahifah-nya disebut Ash-Shadiqah
2.
Ali
Ibn Abi Thalib, penulis tentang hukum diyat, hukum keluarga dn lain-lain.
3.
Anas
Ibn Malik.[4]
Di
samping itu, ketika Nabi SAW.
menyelenggarakan dakwah dan pembinaan umat, beliau sering mrngirimkan
surat-surat seruan pemberitahuan, antara lain kepada para pejabat di daerah dan
seruan seruan dakwah Islamiyah kepada para raja dan kabilah, baik di timur,
barat,dan utara. Surat-surat tersebut merupakan koleksi hadis juga. Hal i i
sekaligus membuktikan bahwa pada masa Nabi SAW. telah dilakukan penulisan hadis
dikalangan sahabat.
Umat
Islam pada masa ini dapat secara langsung memproleh hadis dari Rasul SAW
sebagai sumber.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى،إِنْ هُوَ
إِلاَّ وَحْــــيٌ يُوْ حَــى ( ا
لنخم/3-4)
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadannya
). (QS AL.Najm (53): 3-4).[5]
Rasul
SAW menyampaikan hadisnya dengan berbagai cara, sehingga membuat para sahabat
selalu ingin mengikuti penggajiannya. Ada beberapa cara Rasul SAW menyampaikan
hadis kepada para sahabat, yaitu:
Pertama,
Melalui para jama’ah pada pusat pembinannya yang disebut majelis
al-Ilmi. Melalui majelis ini para sahabat memproleh banyak peluang untuk menerima
hadis, sehingga mereka berusaha untuk selalu mengkonterasikan diri guna
menggikuti kegiatan dan ajaran yang diberikan oleh Nabi SAW.
Para
sahabat begitu antusiasi untuk tetap bisa menggikuti kegiatan di majilis ini,
inmi ditunjukkannya dengan banyak upayakan oleh Umar bin Khattab. Ia
sewaktu-waktu bergantian hadir dengan Ibnu Zaid (Dari bani Umayah) untuk
menghadiri majilis ini, ketika ia berhalangan hadir. Ia berkata: “Kalau hari
ini aku yang turun atau pergi, pada hari lainya ia yang pergi, demikian aku
melakuknya.”[6]
Terkadang kepala-kepala suku jauh dari madinah mengirim utusanya ke majlis ini.
Untuk kemudian menggajarkannya kepada suku mereka sekembalinnya dari sini.
Kedua,
dalam bnayak kesempatan Rasul SAW juga menyampaikan hadisnya
melalui sahabat tertentu, yang kemudian disampaikannya kepada orang lain. Hal
ini karena terkadang ketika ia mewurudkan hadis, para sahabat yang hadir hanya
beberapa orang saja, baik karena disegaja oleh Rasul SAW sendri atau secara
kebetulan para sahabat yang hadir hanya beberapa orang saja, bahkan hanya satu
orang, seperti hadis-hadis yang di tulus oleh Abdullah ibn Amr ibn Al-Ash.
Untuk
hal-hal yang sensitif, seperti yang berkaitan dengan soal keluarga dan
kebutuhan biologis (terutama yang menyangkut hubungan suami istri) ia sampaikan
melalui istri-istrinya. Begitu juga
sifat dari sahabat.
Ketiga, Cara lain
yang dibuat oleh Rasul SAW adalah membuka sebuah tempat lapangan untuk menyampaikan
ceramah, atau pidato. Ketika
menunaikan ibadah Haji pada tahun 10 H (631 M), Nabi menyampaikan Khotbah yang
sangat bersejarah di depan ratusan ribu kaum muslimin yang melakukan ibadah
haji, yang isinya banyak terkait dengan bidang muamalah, siyasah, jinayah, dan
hak asasi manusia.
B. Priode : Perkembangan pada Masa Sahabat Kecil dan
Tabiin.
Priode
ini disebut ‘Ashr- Intisyar al-Riwayah ila Al-Amshar (masa berkembang
dan meluasnya periwayatan habis). [7] pada
masa ini, daerah Islam sudah meluas, yakni ke negeri Syam, Irak, Mesir,
Simarkand, bahkan pada tahun 93 H, meluas sampai ke daerah-daerah tersebut.
Para
sahabat kecil dan tabiin yang ingin mengetahui hadis-hadis Nabi SAW, di
haruskan berangkat ke seluruh pelosok wilayah Daulah Islamiah untuk menanyakan
hadis kepada sahabat-sahabat besar yang sudah tersebar diwilayah.
Muncullah
bendaharawan dan lembaga-lembaga hadis di berbagai daerah diseluruh Negeri.
Diantara itu banyak hadis yang yang di ambil atau direrima berbagai daerah di
seluruh negara dan menerima, menghapal, dan mengembangkan atau meriwayatkan
tentang hadis tersebut adalah.
1.
Abu
Hurairah, menurut Ibn Al-Jauji, beliau meriwayatkan 5.374 hadis, sedangkan
menurut Al-Kirmany, beliau meriwayatkan 5.364.
2.
‘Abdullah
Ibn Umar Meriwayatkan 2.630 hadis.
3.
‘Abdullah,
istri Rasul SAW. meriwayatkan 2.270 hadis.
4.
‘Abdullah
Ibn ‘Abbas mriwayatkan 1.660 hadis.
5.
Jabir
Ibn ‘Abdullah meriwayatkan 1.170 hadis.
6.
Abu
Sa’id Al-Khudri meriwayatkan 1.170 hadis.[8]
Adapun lembaga-lembaga hadis yang menjadi pusat bagi usaha
penggalian, pendidikan, dan pengembangan hadis terdapat di:
1.
Madina,
Dengan tokoh-tokohnya: Abu Bakar, Umar, Ali, Abu Hurairah, ‘Aisyah, Ibn
Umar Sa’id Al-Khudri, Zaid Ibn Tsabit
(dari kalangan sahabat), ‘Urwah, Sa’id Az-Zuhri, ‘Abdullah Ibn Umar, Al-Qasim
Ibn Abi Bakar, Nafi, Abu Bakar Ibn Abd Ar-Rahman Ibn Abd Ar-Rahman Ibn Hisyam,
Dan Abu Zinad (dari kalangan tabiin).
2.
Mekah,
dengan tokoj-tokohnya: Ali, ‘Abdullah Ibn Mas’ud, Sa’ad Ibn Abi Waqas, Sa’id
Ibn Zaid, Khabbah Ibn Al-Arat, Salman Al-Aswad, Syuraih, Ibrahim, Sa’id Ibn
Jubair, Amir Ibn Syurahil, Ash-Sya’bi.
3.
Bashrah,
dengan tokoh-tokohnya: Anas Ibn Malik, “Utbah, Imran Ibn Husain, Abu Barzah,
Ma’qil Ibn Yasar, Abu Bakrah, Abd Ar-Rahman Ibn Sumirah,’Abdullah Ibn
Syikhkhir, Jariah Ibn Qudomah (sahabat), Abu Al-Aliyah, Rafi’ Ibn Mihram
Al-Riyahi, Al-Hasan Al-Bishri, Muhammad Ibn Sirin, Abu Sya’tsa, Jabir Ibn Zaid,
Qatabah, Mutharraf Ibn ‘Abdullah Ibn Syikhkhir, Abu Bardah Raja’ Ibn Abi Musa
(tabiin).
4.
Syam,
dengan tokoh-tokohnya: Mu’adz Ibn Jabbal, Ubaidah Ibn Tsamit, Abu Darda
(sahabat), Abu Idris al-Khaulani, Qasibah Ibn Dzualib, Makhluk, Raja’Ibn Haiwah
(tabiin).
5.
Mesir,
dengan tokoh-tokohnya: ‘Abdullah Ibn Amr, Uqbah Ibn Amir, Kharijah Ibn
Hudzaifah,’ Abdullah Ibn Harist, Abu Basyrah, Abu Saad al-Khair, Marstad
al-Yaziri, Yazid Ibn Abi Habib (tabi’in)[9].
Masa
sahabat Khususnya masa Khulafa’ Al-Rasyidin (Abu bakar, Umar ibn
Khattab, Usman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib) yang berlangsung sekitar tahun
11 H sampai dengan 40 H. Masa ini juga disebut dengan masa sahabat besar. Para
sahabat masih terfokus pada pemeliharaan dan penyebaran al-Quran, maka
periwayatan hadis belum begitu berkembang dan berusaha untuk membatasinya.[10]
[3] Barmawi Umarie. Status Hadits sebagai
dasar Tasjri. Solo: AB. Siti Sjamsijah. 1965. Hlm 13. Lihat juga
Soetari. Op,cit hlm.33.
[4] Baarmawi Umaie. Status Hadis sebagai Dasar
Tasjri. Solo: AB. Siti Sjmasijah. 1965, hlm 13. Lihat Juga Soetari. Op,cit.33.
[5] Dr.H. Munzier Suparta M.A. Ilmu
hadis: Jakarta 2001. Hlm.71
[6] Ibnu
Hajar Al-Al-Asqalani, Fath Al-bari, Jilid I, (Beirut: Dar Al-Fikr wa
Maktabah Al-Salafih, t,t) hlm. 150.
[7] Ibid.hlm.47-54 Lihat juga Ash-Shuddieqy. Op,cit,
hlm. 69-78.
[8] Soetari, op.cit, hlm.48
[9] Ibid. hlm. 48-49. Lihat Ash-Shidieqy. Op.cit.
hlm 74-76
[10] Dr.H. Munzier Suparta M.A. Ilmu hadis:
Jakarta 2001. Hlm 79
Tidak ada komentar:
Posting Komentar